BAB
3
KONSEPSI
ILMU BUDAYA DASAR DALAM KESUSASTRAAN
3.1. PENDEKATAN
KESUSASTRAAN
Sastra adalah karya, sama posisinya
seperti karya-karya yang lain, seperti cerpen, puisi, lukisan, patung, musik,
seni peran, dan apa saja yang merupakan hasil dari proses penciptaan. Sastra
adalah sebuah karya yang diawali dengan kejujuran, diisi dengan kesungguhan hati
dan diakhiri dengan kerelaan. Sastra juga dapat didefinisikan sebagai cinta
pada ciptaan Tuhan. Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh
karena seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreasifitas manusia. Seni
sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing
individu memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau
kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari
kebebasan berekspresi, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang
pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat suatu medium, untuk menyampaikan baik
kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin
untuk medium itu. Seni merupakan suatu kebebasan.
3.2. ILMU
BUDAYA DASAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PROSA
Dalam bahasa Indonesia istilah
prosa sering diterjemahakan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai
bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pameran,lakuan, dan alur yang
dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Dalam kesusatraan Indonesia kilta
mengenal jenis prosa lama dan baru.
a. Prosa
lama meliputi:
o
Dongeng-dongeng
o
Hikayat
o
Sejarah
o
epos
o
cerita pelipur lara
b. Prosa
baru meliputi
o
cerita pendek
o
hikayat
o
biografi
o
kisah
o
otobiografi
3.3. NILAI-NILAI DALAM PROSA FIKSI
Prosa
fiksi dalah prosa yang mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat
sastra, nilai-nilai prosa fiksi diantaranya adalah :
a. Memberikan
wawasan, karena yang diperoleh pembaca adalah pengetahuan tentang nilai-nilai
prosa fiksi.
b. Memberikan
inforrmasi, karena yang di peroleh pembaca bukan hanya wawasan tapi juga
informasi yang banyak dari berbagai tokoh prosa fiksi di dunia.
c. Memberikan
kesenangan, selain memberikan wawasan dan informasi juga dapat memberikan
kesenangan pembaca yang di selilingi dengan sejarah-sejarah zaman dahulu kala.
d. Memberikan
warisan, dapat di berikan kepada cucu-cucu kita untuk bekal mereka nanti dalam
memdalami prosa fiksi tersebut.
3.4. ILMU
BUDAYA DASAR YANG MENGHUBUNGKAN DENGAN PUISI
Pembahasan puisi dalam rangka
pengajaran Ilmu Budaya Dasar tidak akan diarahkan pada tradisi pendidikan dan
pengajaran sastra dan apresiasinya yang mumi. Puisi dipakai sebagai media
sekaligus sebagai sumber belajar sesuai dengan tema-tema atau pokok bahasan
yang terdapat di dalam Ilmu Budaya Dasar.
Kepuitisan, keartistikan atau keestetikan bahasa puisi
disebabkan oleh kreativitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan
:
1. Figura
bahasa seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, alegori, sehingga
puisi menjadi segar, hidup, menarik dan memberi kejelasan gambaran angan.
2. Kata-kata
yang ambiquitas yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
3. Kata-kata
berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi perasaan dan
pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
4. Kata-kata
yang konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai-nilai rasa dan
asosiasi-asosiasi tertentu.
5. Pengulangan,
yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang dilukiskan, sehingga lebih
menggugah
No comments:
Post a Comment